Cerpen Pribadi dan
Orang Lain
NAMA : SAHLAN MUQORROBIN
KELAS : x-2
KERANGKA CERPEN PRIBADI
1.
Tema : Persahabatan
2.
Tokoh : Saya (Sahlan)
Kiki
Aad
3.
Latar : Halaman rumah
Sawah
4.
Konflik : Mencari hiburan
5.
Sudut pandang : Orang
ketiga
6.
Alur cerita : Maju
7.
Penyelesaian konflik : Memancing dengan teman teman
KERANGKA CERPEN ORANG LAIN
1.
Tema : Kedekatan
2.
Tokoh : Aku (Kiki)
Ayahku
3.
Latar : Laut
4. Konflik : Memancing
5. Sudut
pandang : Orang ketiga
6.
Alur cerita : Maju
7.
Penyelesaian konflik : Mendapat ikan
MEMANCING
DENGAN TEMAN TEMAN
Pada waktu libur
sekolah, saya, kiki, dan aad hanya liburan dirumah saja. Kami tidak mempunyai
ide untuk berlibur dimana pada libur kali ini, pada liburan kali ini sama
seperti liburan tahun lalu. Liburan tahun lalu kami hanya bermain dirumah saja.
Lalu teman teman saya
mempunyai ide untuk liburan dimana tahun ini.
“Lan aku punya ide”. Kata temanku
“Ide apa ki”. Sahut ku kepada teman ku
“Bagaimana kalau liburan kalli ini kita pergi
memancing”. Jawab temanku
“Mancing apa!!!!”. Jawabku dengan wajah bingung
“Bagaimana kalau kita mancing belut”
“Baiklah”
Keesokan harinya kami mempersiapkan alat untuk
memencing belut.
“Bagaimana kalau kita ajak aad untuk memancing”
“Baikalah kalau lebih banyak lebih seru juga kan”.
Jawab kiki.
Setelah selesai
mempersiapkan alat pancing, kami pergi kerumah aad untuk mengajaknya memancing,
kebetulan ketika kami ingin mengajaknya memancing kami bertemu di perjalanan.
“Eh, kebetulan ketemu kamu”. Kata ku
“Ada apa”. Sahut aad
“Kamu mau tidak memancing belut bearsama “
“Mau tapi mancing dimana”. Jwab aad
“Kita memancing belut di sawah yg baru di tanami
padi itu”. kataku
“ Baiklah tapi aku harus izin dulu”. Jawabnya
Setelah izin kepada
ibunya kami bertiga pun pergi mamancing belut. Kami memancing di sawah yang
baru ditanami padi, kata orang di tempat itu banyak belutnya.
Lalu si kiki mencari
umpan untuk memancing.
“Bagaimana kalau kita menggunakan siput untuk
umpanya”. Kata kiki sambil menunjukan
siputnya
Setelah lama kami
memancing kami belum mendapatkan belut juga.
“Menggunakan siput tidak manjur”. Kata aad
“Benar”. Jawab ku
“Bagaimana kalau kita menggunakan umpat anak katak
untuk memancing”. Kata kiki
Benar saja, setelah
kami menggunakan umpan anak katak kami banyak mendapatkan belut.
Setelah dapat benyak
belut kami pulang karena sudah hampir sore, kami memancing selama 5 jam tanpa
henti, karena keasikan mendapat banytak belut, lalu hasilnya kami bawa pulang.
“Bagaimana kalau belut ini kita bakar”. Kata
si aad ditengah perjalanan pulang
“Mau dibakar dimana belut ini”. Jawab ku
“Di samping rumahku”. Kata aad
Lalu kami semua pulang untuk mandi. Malam harinya
saya pergi kerumah Aad.
“Kiki dimana “. Kata aad
“Dia masi dirumah, bentar lagi juga sampai”. Kata ku
Lalu ibunya Aad keluar
sambil membawa bumbu bakar untuk belut nanti.
“Eh alan, kiki mana”. Kata ibunya aad
“Dia masi dirumah bu, bentar lagi juga kemari”.
Jawab ku
Setelah Kiki sudah
sampai kami mulai bakar bakar belutnya, kami membagi tugas untuk bakar bakar si
kiki tugasnya mencari kayu bakar, aad mempersiapkan alat untuk bakar bakar,
ibunya aad mempersiapkan bumbu untuk bakar belutnya, sedangkan aku di tugaskan
untuk membakar belutnya.
Setelah belutnya sudah
matang kami makan bersama ibunya aad tidak ikut karena ia tidak suka belut
bakar dia hanya suka belut goreng, tapi kami sudah menyisahkan belut untuk
ibunya aad untuk digoreng besok pagi, bukan hanya ibunya aad saja yang kami
sisahkan tetapi kami menyisahkan untuk ibu kami juga.
Setelah bakar bakar
sudah selesai kami ngobrol ngobrol dan bercanda riang untuk melepas lelah di
kesunyian malam ini.
“Besok kita ngapain lagi ya!”. Tanya aad
“Bagaimana kalu esok kita memancing lagi”. Jawab ku
“Apa tidak ada ide lagi”. Jawab kiki
“Benar juga, masa kita memancing belut lagi”. Balas
aad
“Lalu kita mau apa”. Jawab ku
“iya ya aku juga bingung”. Kata kiki
“Kalau begitu besok kita memancing lagi, tapi
sedikit berbeda”. Kata aad
“Memangnya kita akan memancing apa?”. Kata ku
“Kita akan memancing ikan bukan belut lagi”. Jawab
aad
“Baiklah kalau begitu”.
Setelah
beres beres selesai kiki mengajak kami untuk olahraga sehabis sholat subuh.
“Nanti pagi setelah sholat subuh kita lari pagi dulu
mau tidak”. Kata kiki
“Baiklah”.
“Tapi kita berkumpul dimana”. Kata aad
“Bagaimana kalu kita berkumpul di rumah ku”. Jawab
ku
“Baiklah tapi ingat berkumpulnya setelah sholat
subuh oke”. Kata kiki
Kami
pun pulang kerumah masing masing karena jam sudah menunjukan pukul 11 malam.
Saya dan kiki pamit pada ibunya aad untuk pulang.
“Bu, saya pulang duluya”. Kata ku
“Saya juga bu“. Jawab kiki
“Assallamualaikum”.
“Wallaikum salam”. Hati hati ya nak”. jawab ibuny
aad
Lalu
setelah sholat subuh kami pun olahraga seperti yang sudah di rencanakan.
“Kiki mana Ad ko dia belum sampai”. Kata ku
“Kan dia memang begitu selalu telat”. Jawab aad
Setelah
kiki sampai kami pun olahraga bersama, setelah sudah merasa lelah kami pulang
untuk sarapan.habis itu kami jalan lagi untuk pergi memancing.
Itulah
ceritaku yang berjudul MEMANCING DENGAN TEMAN TEMAN, cerita ini merupakan
pengalaman nyata saya bersama teman teman.
Memancing Dengan Ayahku
Angin berhembus kencang dan terdengar suara
gelombang-gelombang air kecil dilaut disertai kicau-kicau burung camar. Itulah
yang aku rasakan setiap pergi memancing ke laut bersama ayahku, aku pergi
memancing setiap pada hari libur bersama ayahku. Aku memancing menggunakan perahu
atau getek bersama ayah ku.
Aku mencari
lokasi yang cukup banyak ikan nya untuk kami memancing, setelah menemukan
lokasi yang cukup nyaman dan juga banyak ikannya aku dan ayahku berhenti dan
menurunkan jangkar. Setelah itu kami mempersiapkan alat-alat pancingnya.
“ki, kamu menyiapkan umpan, dan alat-alat pancingnya.” Ucap ayahku untuk memberi tugas
“Baiklah.”Balas ku
Setelah semuanya beres, aku dan ayahku bergegas untuk mulai mencari ikan, agar pulang nanti bisa dapat banyak ikan.
“Kiki, ayo lomba banyak-banyakan mendapat ikan,” Ajak ayahku
“Baiklah,siapa takut.” Balas ku
Dan setelah lama aku memancing belum juga aku mendapatkan ikan, sedangkan ayahku sudah banyak mendapatkan ikan, itu mungkin karena aku belum profesional alam memancing ikan. Lalu aku di ajarkan memancing ikan dengan benar oleh ayahku.
“ki, kamu menyiapkan umpan, dan alat-alat pancingnya.” Ucap ayahku untuk memberi tugas
“Baiklah.”Balas ku
Setelah semuanya beres, aku dan ayahku bergegas untuk mulai mencari ikan, agar pulang nanti bisa dapat banyak ikan.
“Kiki, ayo lomba banyak-banyakan mendapat ikan,” Ajak ayahku
“Baiklah,siapa takut.” Balas ku
Dan setelah lama aku memancing belum juga aku mendapatkan ikan, sedangkan ayahku sudah banyak mendapatkan ikan, itu mungkin karena aku belum profesional alam memancing ikan. Lalu aku di ajarkan memancing ikan dengan benar oleh ayahku.
“Ki, sini
ayah ajarkan memancing dengan benar,” kata ayahku
“Boleh yah,
emangnya seperti apa memancing dengan benar,” jawab ku
“Kunci
utamanya ialah sabar dan jangan terlalu berisik,” jawab ayahku
“Contohnya
yah,” jawab ku
Lalu ayahku mengajarkan aku memancing dengan benar. Ternyata kalau ingin
dapat banyak ikan kita harus sabar dan tenang kalu tidak sabar bukan memancing
namanya, dan juga jangan berisik. Kalu kita berisik nanti ikanya akan kabur dan
tidak mau memakan umpan kita nantiya.
Benar saja setelah di ajarkan
memancing oleh ayah saya aku mendapatkan banyak ikan.
“Yah umpan
ku ditarik,” kataku
“Menariknya
empal empal nak agar senarnya tidak putus” jawab ayahku
Umpan ku dimakan ikan lagi tetapi
kali ini ikanya lebih besar, aku sampai kewalahan memainkan joran pancingku.
“Berat
sekali yah aku tidak kuat,” kata ku
“Mungkin
ikanya besar nak,” jawab ayah ku
“Munkin juga
yah,” kata ku
Setelah cukup lama akhirnya ikan pun
dapat aku taklukan, benar saja ikan yang aku dapat lumayan besar.
“Wah besar
ekali ikannya nak,” kata ayah ku
“Benar yah,”
jawab ku
“Baru saja
ayah ajarkan kamu sudah cukup mahir,” kata ayah ku
Setelah mendapat ikan yang banyak
aku dan ayah ku pulang, sebelum pulang kerumah aku di ajak ayah ku pergi ke
pasar.
“Bukanya
kita akan pulang yah,” kata ku
“Kita
menjual ikan ini sebagian, karena ini sudah lebih cukup,” jawab ku
“Baiklah
yah,” jawab ku
Memang ayahku tidak suka berlebih
lebihak, makanya ikan yang kami dapat di
jual oleh ayah ku sebagian, lumanyan lah untuk mendapat penghasilan tambahan
untuk ayah ku dan uang jajan untuk ku sendiri.





