data pengunjung

Flag Counter

Selasa, 09 Juni 2015

contoh cerpen pribadi dan orang lain



Cerpen Pribadi dan 
                    Orang Lain
Hasil gambar untuk gambar cerpen




NAMA    : SAHLAN MUQORROBIN
KELAS   : x-2


KERANGKA CERPEN PRIBADI
1.   Tema                          :  Persahabatan
2.   Tokoh                         :  Saya (Sahlan)
                                           Kiki
                                           Aad
3.   Latar                           :  Halaman rumah
                           Sawah
4.   Konflik                       :  Mencari hiburan
5.   Sudut pandang            : Orang ketiga
6.   Alur cerita                  :  Maju
7.   Penyelesaian konflik  :  Memancing dengan teman teman


KERANGKA CERPEN ORANG LAIN
1.   Tema                          :  Kedekatan
2.   Tokoh                         :  Aku (Kiki)
                                          Ayahku
3.   Latar                           :  Laut
4.   Konflik                       :  Memancing
5.   Sudut pandang            : Orang ketiga
6.   Alur cerita                  :  Maju
7.   Penyelesaian konflik  :  Mendapat ikan



MEMANCING DENGAN TEMAN TEMAN

Pada waktu libur sekolah, saya, kiki, dan aad hanya liburan dirumah saja. Kami tidak mempunyai ide untuk berlibur dimana pada libur kali ini, pada liburan kali ini sama seperti liburan tahun lalu. Liburan tahun lalu kami hanya bermain dirumah saja.
Lalu teman teman saya mempunyai ide untuk liburan dimana tahun ini.
“Lan aku punya ide”. Kata temanku
“Ide apa ki”. Sahut ku kepada teman ku
“Bagaimana kalau liburan kalli ini kita pergi memancing”. Jawab temanku
“Mancing apa!!!!”. Jawabku dengan wajah bingung
“Bagaimana kalau kita mancing belut”
“Baiklah”
Keesokan harinya kami mempersiapkan alat untuk memencing belut.
“Bagaimana kalau kita ajak aad untuk memancing”
“Baikalah kalau lebih banyak lebih seru juga kan”. Jawab kiki.
Setelah selesai mempersiapkan alat pancing, kami pergi kerumah aad untuk mengajaknya memancing, kebetulan ketika kami ingin mengajaknya memancing kami bertemu di perjalanan.
“Eh, kebetulan ketemu kamu”. Kata ku
“Ada apa”. Sahut aad
“Kamu mau tidak memancing belut bearsama “
“Mau tapi mancing dimana”. Jwab aad
“Kita memancing belut di sawah yg baru di tanami padi itu”. kataku
“ Baiklah tapi aku harus izin dulu”. Jawabnya
Setelah izin kepada ibunya kami bertiga pun pergi mamancing belut. Kami memancing di sawah yang baru ditanami padi, kata orang di tempat itu banyak belutnya.
Lalu si kiki mencari umpan untuk memancing.
“Bagaimana kalau kita menggunakan siput untuk umpanya”. Kata kiki sambil menunjukan      siputnya
Setelah lama kami memancing kami belum mendapatkan belut juga.
“Menggunakan siput tidak manjur”. Kata aad
“Benar”. Jawab ku
“Bagaimana kalau kita menggunakan umpat anak katak untuk memancing”. Kata kiki
Benar saja, setelah kami menggunakan umpan anak katak kami banyak mendapatkan belut.
Setelah dapat benyak belut kami pulang karena sudah hampir sore, kami memancing selama 5 jam tanpa henti, karena keasikan mendapat banytak belut, lalu hasilnya kami bawa pulang.
“Bagaimana kalau belut ini kita bakar”.  Kata  si aad ditengah perjalanan pulang
“Mau dibakar dimana belut ini”. Jawab ku
“Di samping rumahku”. Kata aad
Lalu kami semua pulang untuk mandi. Malam harinya saya pergi kerumah Aad.
“Kiki dimana “. Kata aad
“Dia masi dirumah, bentar lagi juga sampai”. Kata ku
Lalu ibunya Aad keluar sambil membawa bumbu bakar untuk belut nanti.
“Eh alan, kiki mana”. Kata ibunya aad
“Dia masi dirumah bu, bentar lagi juga kemari”. Jawab ku
Setelah Kiki sudah sampai kami mulai bakar bakar belutnya, kami membagi tugas untuk bakar bakar si kiki tugasnya mencari kayu bakar, aad mempersiapkan alat untuk bakar bakar, ibunya aad mempersiapkan bumbu untuk bakar belutnya, sedangkan aku di tugaskan untuk membakar belutnya.
Setelah belutnya sudah matang kami makan bersama ibunya aad tidak ikut karena ia tidak suka belut bakar dia hanya suka belut goreng, tapi kami sudah menyisahkan belut untuk ibunya aad untuk digoreng besok pagi, bukan hanya ibunya aad saja yang kami sisahkan tetapi kami menyisahkan untuk ibu kami juga.
Setelah bakar bakar sudah selesai kami ngobrol ngobrol dan bercanda riang untuk melepas lelah di kesunyian malam ini.
“Besok kita ngapain lagi ya!”. Tanya aad
“Bagaimana kalu esok kita memancing lagi”. Jawab ku
“Apa tidak ada ide lagi”. Jawab kiki
“Benar juga, masa kita memancing belut lagi”. Balas aad
“Lalu kita mau apa”. Jawab ku
“iya ya aku juga bingung”. Kata kiki
“Kalau begitu besok kita memancing lagi, tapi sedikit berbeda”. Kata aad
“Memangnya kita akan memancing apa?”. Kata ku
“Kita akan memancing ikan bukan belut lagi”. Jawab aad
“Baiklah kalau begitu”.
            Setelah beres beres selesai kiki mengajak kami untuk olahraga sehabis sholat subuh.
“Nanti pagi setelah sholat subuh kita lari pagi dulu mau tidak”. Kata kiki
“Baiklah”.
“Tapi kita berkumpul dimana”. Kata aad
“Bagaimana kalu kita berkumpul di rumah ku”. Jawab ku
“Baiklah tapi ingat berkumpulnya setelah sholat subuh oke”. Kata kiki
            Kami pun pulang kerumah masing masing karena jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Saya dan kiki pamit pada ibunya aad untuk pulang.
“Bu, saya pulang duluya”. Kata ku
“Saya juga bu“. Jawab kiki
“Assallamualaikum”.
“Wallaikum salam”. Hati hati ya nak”. jawab ibuny aad
            Lalu setelah sholat subuh kami pun olahraga seperti yang sudah di rencanakan.
“Kiki mana Ad ko dia belum sampai”. Kata ku
“Kan dia memang begitu selalu telat”. Jawab aad
            Setelah kiki sampai kami pun olahraga bersama, setelah sudah merasa lelah kami pulang untuk sarapan.habis itu kami jalan lagi untuk pergi memancing.
            Itulah ceritaku yang berjudul MEMANCING DENGAN TEMAN TEMAN, cerita ini merupakan pengalaman nyata saya bersama teman teman.


Memancing Dengan Ayahku

           
Angin berhembus kencang dan terdengar suara gelombang-gelombang air kecil dilaut disertai kicau-kicau burung camar. Itulah yang aku rasakan setiap pergi memancing ke laut bersama ayahku, aku pergi memancing setiap pada hari libur bersama ayahku. Aku memancing menggunakan perahu atau getek bersama ayah ku.
 Aku mencari lokasi yang cukup banyak ikan nya untuk kami memancing, setelah menemukan lokasi yang cukup nyaman dan juga banyak ikannya aku dan ayahku berhenti dan menurunkan jangkar. Setelah itu kami mempersiapkan alat-alat pancingnya.
“ki, kamu menyiapkan umpan, dan alat-alat pancingnya.” Ucap ayahku untuk memberi tugas
“Baiklah.”Balas ku
            Setelah semuanya beres, aku dan ayahku bergegas untuk mulai mencari ikan, agar pulang nanti bisa dapat banyak ikan.
“Kiki, ayo lomba banyak-banyakan mendapat ikan,” Ajak ayahku
“Baiklah,siapa takut.” Balas ku
            Dan setelah lama aku memancing belum juga aku mendapatkan ikan, sedangkan ayahku sudah banyak mendapatkan ikan, itu mungkin karena aku belum profesional alam memancing ikan. Lalu aku di ajarkan memancing ikan dengan benar oleh ayahku.
“Ki, sini ayah ajarkan memancing dengan benar,” kata ayahku
“Boleh yah, emangnya seperti apa memancing dengan benar,” jawab ku
“Kunci utamanya ialah sabar dan jangan terlalu berisik,” jawab ayahku
“Contohnya yah,” jawab ku
            Lalu ayahku mengajarkan aku  memancing dengan benar. Ternyata kalau ingin dapat banyak ikan kita harus sabar dan tenang kalu tidak sabar bukan memancing namanya, dan juga jangan berisik. Kalu kita berisik nanti ikanya akan kabur dan tidak mau memakan umpan kita nantiya.
            Benar saja setelah di ajarkan memancing oleh ayah saya aku mendapatkan banyak ikan.
“Yah umpan ku ditarik,” kataku
“Menariknya empal empal nak agar senarnya tidak putus” jawab ayahku
            Umpan ku dimakan ikan lagi tetapi kali ini ikanya lebih besar, aku sampai kewalahan memainkan joran pancingku.
“Berat sekali yah aku tidak kuat,” kata ku
“Mungkin ikanya besar nak,” jawab ayah ku
“Munkin juga yah,” kata ku
            Setelah cukup lama akhirnya ikan pun dapat aku taklukan, benar saja ikan yang aku dapat lumayan besar.
“Wah besar ekali ikannya nak,” kata ayah ku
“Benar yah,” jawab ku
“Baru saja ayah ajarkan kamu sudah cukup mahir,” kata ayah ku
            Setelah mendapat ikan yang banyak aku dan ayah ku pulang, sebelum pulang kerumah aku di ajak ayah ku pergi ke pasar.
“Bukanya kita akan pulang yah,” kata ku
“Kita menjual ikan ini sebagian, karena ini sudah lebih cukup,” jawab ku
“Baiklah yah,” jawab ku
            Memang ayahku tidak suka berlebih lebihak, makanya ikan yang  kami dapat di jual oleh ayah ku sebagian, lumanyan lah untuk mendapat penghasilan tambahan untuk ayah ku dan uang jajan untuk ku sendiri.